Avatar adalah seseorang yang telah lama
menghilang dan sangat diharapkan kedatangannya oleh masyarakat dalam legenda
cina,mirip dengan kisah Mahdi yang
dinantikan oleh manusia tapi tulisan ini tidak akan menyamakan atau membanding
bandingkan keduanya sebab Avatar
hanyalah legenda yang belum jelas nashnya selain sebuah cerita disalah satu
stasiun TV swasta, namun ada beberapa pelajaran menarik yang dapat di urai
dalam perjalanan cerita Avatar tersebut.
Pertama, Avatar yang bernama Aang
sebagai sosok yang dirindukan ternyata belum menguasai empat elemen ( air, api,
udara, dan bumi ) sebagai senjata untuk menyelamatkan dunia, lalu apa yang di
lakukannya? sang Avatar mengembara untuk mencari seorang Guru yang mampu
mengajarinya “pengendalian” keempat elemen tersebut, tidak perduli utara
selatan barat maupun timur jika ada berita sang pengendali tinggal disana maka
ia pun terbang dengan bison kesayangannya untuk belajar, legenda ini mirip
dengan Imam Ahmad bin Hambal yang selalu mencari Perawi Hadis sampai ke orang
pertama untuk meyakinkan tentang keshohihan hadis yang beliau dengar. Apa hikmah
dibalik ini semua ternyata sang legenda yang diramalkan mampu menyelamatkan
dunia saja masih mau belajar dan tanpa berputus asa mencari guru bagaimana
mungkin kita yang bukan apa-apa tidak mau belajar bahkan kesulitan mencari
seorang gurupun tidak ditemui untuk saat ini, guru formal misalnya sudah ada
didalam kelas tapi kita malah sibuk mencari alasan untuk tidak masuk kelas atau
kampus bahkan dengan congkaknya mengusir sang guru dengan alas an kurang
berbobot atau tidak berkualitas padahal sang guru telah mengalami perjalanan
pencarian ilmu lebih banyak daripada dia tapi keegoisan diri serta kesombongan
hati telah menutup realitas bahwa dia pun tidak bias apa- apa selain sibuk
mengkritik.
Kedua, Keempat Elemen yang
ingin di pelajari oleh Avatar ternyata merupakan Refleksi Sifat Manusia, jika Avatar
ingin menguasainya dan berharap mampu menjadi pengendali maka kita pun harus
demikian, saatnya kita menjadi pengendali Air yang melambangkan sifat
ketenangan, kejujuran, saat tidak mampu dikendalikan maka Air bisa
menghancurkan dan menenggelamkan apa saja yang dilaluinya, pengendali Api melambangkan
pengendalian terhadap amarah sehingga kita dituntut untuk sabar, tegas dan
berwibawa namun seperti Air, Apipun jika tidak di kendalikan dapat menghadirkan
bencana kebakaran serta kerusakan lainnya. Pengendalian Angin menghadirkan
kesejukkan dan ketawadhuan namun ketika tidak di kendalikan pun dapat
berimplikasi negative, begitu juga dengan Bumi yang melambangkan kemakmuran
jika tidak dikelola dengan baik pun akan menghasilkan Kemarahan Alam.
Iktibar
Belajarlah dengan semangat avatar, balajar dari kegagalan dan kesuksesan
orang lain, Kenali potensi dan saatnya menjadi pengendali keempat elemen.
Gerakan Dan Perjuangan HMI (Harapan
Masyarakat Indonesia)
Oleh : M. Harun Rasid (Kabid PTKP 2010-2011)
Masih patut di acungi jempol perjuangan HMI
hingga saat ini dalam mengisi kemerdaan terukir dalam sejarah HMI, bahkan
sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan Indonesia. HMI memiliki andil yang
sangat besar dan patut diberikan penghargaan. Layaknya pejuang merah putih,
sekaligus sebagai generasi umat dan bangsa tanah air, HMI tidak lelahnya terus
dan terus membantu pemerintah dalam penyediaan SDM yang siap pakai. Dan dalam
sambutan Bang Imam Ari Wibowo, S.E dari PMD KAHMI Samarinda dalam agenda
pelantikan Pengurus HMI cabang Samarinda pada kamis malam (malam jum’at) 17/2
di Auditoriom MAN 2, beliau mengatakan “ Kader HMI adalah Generasi Umat dan
Bangsa Siap Pakai, Dan Gratis. HMI mantap.“ Gratis disini penulis mencoba
menafsirkan bahwa kader HMI dalam pendidikan perkaderan didalam HMI murni
sebuah usaha untuk menjadi cendikiawan Muslim dan Cendikiawan Bangsa yang siap
mengabdi kepada Negara sesuai dengan hak dan kewajibannya, bukan sebagai
organisasi yang dimanfaatkan untuk memperkaya diri dalam hal materiil.
Indonesia juga dalam era demokrasi sekarang
ini banyak dirunut masalah yang begitu peliknya hingga berbagai ancaman
ormas-ormas yang tidak setuju dengan pemerintahan terkait dalam menjalankan
visi dan misi, bahkan ada sekali-kali ancaman tersebut berlontar Presiden
mengundurkan diri dari jabatan, karena tidak mampu memberikan hak-hak yang
diinginkan masyarakatnya. Disinilah sebagai warga Negara, kader HMI patut
berintrospeksi diri tidak hanya ikut mengecam pemerintah, tapi HMI harus sadar
akan tugasnya (pasal 4 AD HMI) dan berupaya lagi dalam internal HMI sendiri
harusnya tidak adanya permusuhan dan perpecahan, karena Anggota HMI adalah
Mahasiswa Islam yang duduk di perguruan tinggi islam dan negeri yang dibina
didalam perkaderan HMI maupun perguruan tingginya, pastinya tidak mengandalkan
otot dalam berdebat melainkan otak dan tidak mengedepankan ego dan
kepentingan-kepentingan sendiri dalam bertindak, namun lebih dalam usaha
mencapai tujuan bersama. Dalam paragraph kedua ini ada pertanyaan dari penulis
yang mendasar, Kapan kader HMI duduk dalam kursi presiden RI? Apalagi untuk
tujuan tersebut HMI malah bentrok dalam internal sendiri, bukan hal yang tidak mungkin
bahkan suatu saat yang akan datang HMI bakal hancur dan musnah. Inikan yang
tidak kita inginkan. Semua anggota HMI bahkan Alumni atau pengagum organisasi
HMI sepakat tidak ingin adanya pecah belah dalam internal HMI.
Ideologi lagi sering menjadi permasalahan
dalam internal HMI. Dalam buku Menuju Masyarakat Madanikarangan Prof. DR. Azyumardi Azra, M.A “ HMI
tidak jelas ieologinya islam dan tidak mengambil salah satu madzhab dalam fikih
islam”. Mungkin ini kritik yang cukup pedas dilontarkan oleh orang yang kenal
HMI dan bahkan kenal asas HMI islam, namun perkataan dalam bukunya Islam yang
kurang mumpuni dari segi pemahaman karena tidak menjurus pada salah satu
madzhab fikih. Namun, HMI jangan beradu argument lagi untuk masalah tersebut.
HMI harus tetap berpegangan tangan. Yang menjadi sorotan kita sekarang adalah
Islam HMI apakah sudah sesuai dengan Al-Qur’an Dan Al-Hadist?. Jika sudah
sesuai maka insya allah Semua Anggota HMI akan selamat didunia dan akhirat dan
pejuangan HMI memperoleh Ridho Allah SWT. Berdasarkan Lagu Hymne HMI pada bait
ke-1 “Bersyukur Dan Ikhlas, Himpuan Mahasiswa Islam” dan Lanjutan pada Bait
ke-9 “ Turut Qur’an Dan Hadist, Jalan Keselamatan”. Bukan semata-mata sebagai
Hymne, namun lebih dari itu sebagai landasan perjuangan dan Agama.
Setiap kader mestilah mempunyai usaha dalam
membangun diri pribadinya, inilah yang tercermin oleh seorang kader HMI yang
bisa rela dalam menjalankan tugasnya. Dalam hal ini juga masih disorot beberapa
pertanyaan dan experiment, Baru saja kemarin ada sebuah kalimat yang
menyebutkan dalam rangka MILAD HMI ke-64 di SMD “Sepirit Islam, HMI mengabdi
dengan kesederhanaan”. Patut menjadi contoh bagi kita beberapa orang yang kagum
dengan sebuah kalimat tersebut, bahkan menjadi patokan dalam kinerja pribadinya
dalam perkaderan HMI. Inilah siapa sangka bahwa islam sendiri mengajarkan
kesederhanaan dalam hidup ini, kenapa HMI juga tidak demikian antusiasnya. Nabi
Muhammad S.A.W pada sebuah riwayat, beliau setiap pagi selalu membawa makanan
yang dibuatkan oleh istrinya untuk diberikan kepada seorang yang buta. Bahkan
pada kesempatan tersebut Beliau Rasulullah Muhammad S.A.W rela menyuapi orang
buta tersebut, dan lebih anehnya lagi beliau tau padahal orang yang buta itu
sedang mencerca rasulullah dengan mengatakan “jangan percaya kepada Muhammad,
Muhammad seorang penipu”. Tapi, orang buta tersebut tidak mengetahui yang
menyuapi dan memberi makan beliau adalah Nabi Muhammad S.A.W. Sungguh dalam
diri rasulullah terdapat suri tauladan yang baik. Hingga pada akhirnya orang
buta tersebut tidak lagi merasa diberi makan lagi oleh orang yang menyuapinya
setiap pagi, karena nabi Muhammad wafat. Ketika si buta tadi mendengar bahwa
yang selalu menyuapinya tadi adalah nabi Muhammad, beliau langsung beristighfar
dan segera masuk islam. Siapa yang bisa meniru sifat rasulullah ini, selalu
berbuat baik kepada orang yang walaupun orang tersebut benci dengan kita, dan
kemenangan besar datang kepada beliau. Selain itu, beliau dalam daftar pemimpin
dunia dalam sejarah, menempati peringkat ke-1. Seluruh dunia sudah mengakuinya
bahkan tidak hanya sebagai symbol, dalam firman Allah dalam Al-Qur’an Surah
Al-Ahzab ayat 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Ghiroh baru bukan berarti
bahwa meninggalkan sebuah wahyu yang diturunkan lama sebelum kita ada atau
hadir dibumi ini. Wahyu adalah Kalam Allah, dan perkataan Allah. Siapapun tidak
ada yang sanggup menandingi Al-qur’an baik dari segi isi ataupun bacaannya.
Oleh karena itu, Al-qur’an bagi para ulama adalah Pedoman Agama yang lebih muda
dari Al-kitab yang diturunkan sebelumnya dan selalu menjadi semangat baru dari
segi isinya dan bacaannya. Sebab itulah, sebagai pedoman pokok dalam ghiroh
baru dalam perjuangan HMI yang pertama adalah berpedoman pada Al-qur’an.
Seorang Kader HMI juga patut mengkoreksi diri, apakah sudah selama ini
perbuatan dan tindakannya sudah sesuai dengan Al-qur’an Atau kalam Allah. Akan
tetapi tidak lengkap jika kita hanya bicarakan Al-Qur’an. Sebagai Sebuah
konstitusi yang lengkap untuk pedoman ajaran islam, Al-Hadist juga tidak bisa
kita tinggalkan. Maka Al-qur’an dan Al-hadist adalah sebuah kesimpulan patokan
kita dalam melandasi seorang kader HMI untuk berbuat, bertindak, dan mengabdi.
Selanjutnya, Semakin
banyak kader HMI berkaca diri, semakin cepat tujuan HMI pasal 4 AD HMI itu
terwujud. Mengapa penulis katakan demikian, karena tujuan HMI tidak jauh-jauh
dari ajaran-ajaran islam serta memperoleh ridho Allah S.A.W. Siapa yang tidak
tahu bahwa ajaran islam itu mengharuskan umat manusia untuk saling hidup
berdamai dan madani, dan siapa yang tidak tahu islam mengajarkan kepada manusia
untuk menuntuk ilmu akademis (Insan Akademis), selanjutnya mengamalkan ilmu
tersebut dengan cara membuat inovasi atau memunculkan ide-ide kreatif (Insan
Pencipta), serta menyampaikan ilmu tersebut kepada sesama dan mengabdi kepada
Bangsa Negara (Insan Pengabdi). Jika hal tersebut terpenuhi maka, akan mencapai
umat manusia yang selalu bernafaskan islam dalam kepribadian hidupnya (Insan yang
Bernafaskan Islam), dan bukan hal yang tidak mungkin menjadi manusia yang
selalu bertanggung jawab baik kepada sesama, ataupun kepada bangsa dan Negara
tanpa ada paksasan (Insan yang Bertanggungjawab). Maka insya Allah kader HMI
memperoleh Ridho Allah Subhanahu Wata’ala. Amin ya rabbal alamin.
Reference
:
üPedoman Basic Training
üAD / ART HMI
üHMI Candradimuka
Mahasiswa, Pengarang : Solichin
üMenuju Masyarakat Madani,
Pengarang : Prof. DR. Azyumardi Azra, M.A
Mahasiswa adalah salah satu kekuatan yang mempelopori perubahan di Negeri
ini. Mahasiswa dan gerakan-gerakan kemahasiswaan telah memberikan peran yang
signifikan dengan memberikan “api-api perjuangan” untuk menyikapi
permasalahan-permasalahan dengan kritis demi menegakkan keadilan dan kebenaran.
Dan inilah bentuk dedikasi seorang mahasiswa kepada Negerinya. Mahasiswa dan
gerakan-gerakan kemahasiswaan telah berhasil menunjukkan eksistensinya di
tengah pergelutan politik yang mengancam nama baik Negeri ini,
problematika-problematika yang mulai merebak di tengah khalayak seolah-olah
menjadi “motivator” sebuah pergerakan, dan bentuk keanarkisan dalam sebuah
pergerakan adalah bentuk kekecewaan terhadap problematika tersebut.
Hari ini kita telah mulai kehilangan Ruh dalam sebuah perjuangan, kita
sudah mulai “melupakan” sejarah yang memicu lahirnya pergerakan ini. Semangat
perjuangan mengalami kemunduran dengan adanya intervensi politik yang masuk
dengan mudah ke dalam ranah implementasi perjuangan tersebut, hal ini
mengindikasikan kalau kita lemah, kita tidak sekuat dulu dan kita tidak sesolid
dulu. Akankah semangat perjuangan, kekuatan dan kesolidan kita hanya akan
menjadi catatan sejarah tanpa adanya regenerasi lebih lanjut ?
Apakah ini akhir dari
metamorfosa HMI ?
Sejarah lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan berawal dari sebuah
kebetulan, tapi berawal dari sebuah perencanaan, kerisaun dan harapan. Dan kita
sebagai generasi penerus adalah bagian dari sebuah harapan dari para
pendiri/pelopor lahirnya HMI.
HMI bukanlah organisasi baru yang hanya akan menjadi pengekor dari
organisasi-organisasi lain, HMI bukanlah “pembantu” yang harus selalu menurut
apa kata tuannya. Tetapi, Hmi adalah salah satu “nenek moyang” dari
organisasi-organisasi lain, HMI adalah salah satu pelopor dari
organisasi-organisasi lain, HMI punya andil besar dari revolusi yang terjadi di
Negeri ini, HMI punya peran yang signifikan dalam menumbangkan rezim orde lama.
Tetapi, akan timbul pertanyaan dari ini semua “apakah ini hanya akan menjadi
catatan sejarah ?”, kita punya pilihan sebagai generasi penerus “apakah akan
terus menggoreskan sejarah dari setiap perjuangan kita atau sejarah perjuangan
HMI terhenti sampai di sini ?”.
HMI haus akan kader-kader berkualitas, HMI rindu pada suasana
intelektualitas, HMI rindu untuk membina insan akademis pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur
yang di ridhoi Allah SWT. Ini semua adalah keluh kesah yang seharusnya bisa
kita dengar dan kita perbiki.
HMI punya masa keemasan, HMI punya sejarah yang wajar untuk dibanggakan.
Tapi, sampai kapan kita akan bernostalgia dengan semua sejarah itu, sampai
kapan kita akan beromantika dengan sejarah yang pernah ditoreh oleh para
pendahulu kita ?. Jika para pendahulu mempunyai rentetan sejarah yang
memuaskan, lalu ada apa dengan kader-kader HMI yang sekarang ?
Rentetan pertanyaan tersebut adalah bukti dari merosotnya pergerakan kita,
kita terlalu terbuai pada ranah politk sesaat, kita terlalu terlena pada
persaingan internal dalam pergerakan kita, apakah harus ada perombakan
besar-besaran pada paradigma kita, ? kita harus selalu bangga dengan komunitas
“nama besar” pergerakan HMI. Tapi, jangan sampai kebanggaan kita pada sebuah
komunitas hanya akan meniadakan kualitas pada diri kita sebagai salah satu
calon kader HMI yang berintelektualitas Muslim. Seyogyanya, haruslah ada
keselarasan dari keduanya, kita bangga dengan sebuah komunitas, tapi kita juga
bias bangga dengan kualitas kita. Dan ini adalah pilihan.
Mengenai pilihan, saya teringat sebuah cerita seorang pengemis yang ingin
mengubah nasibnya, pada suatu hari pengemis ini datang kesebuah pasar “expo”,
di pasar tersebut dia bertemu dengan seorang peramal, lalu peramal itu pun
meramal garis tangannya, dan peramal itu pun mengatakan kepada pengemis bahwa
“garis tangan anda sama persis dengan garis tangan Napoleon Bonavarte”, dengan
penuh keraguan akhirnya pengemis tadi pun pergi ke pasar selanjutnya, dan
bertemu kembali dengan seorang peramal, peramal itu pun mulai meramal garis
tangan pengemis tadi, peramal pun berkata hal yang sama seperti peramal yang
pertama yaitu “garis tangan anda sama persis seperti garis tangan Napoleon
Bonaparte”, namun seorang pengemis tadi masih meragukan apa yang dikatakan oleh
dua orang peramal tadi, akhirnya dia pun berkunjung ke tempat peramal yang
ketiga namun jawaban yang sama lagi yang dia dapatkan, dengan sebuah keyakinan
dia pun mengubah penampilannya yang semula urak-urakan menjadi rapi dan bersih,
dan sejarah mencatat seorang pengemis tadi pernah menjadi orang terkaya di
Perancis.
Dari cerita di atas kita semua bisa mengembil sebuah pelajaran bahwa hidup
ini pilihan, kita semua mempunyai kesempatan untuk itu semua, kita yang
menentukan akhir dari perjalanan hidup kita. Apa yang akan kita pilih dan kita
raih semuanya menjadi sebuah pilihan.
Begitu juga dengan HMI, kita sebagai kader-kader HMI punya pilihan, apakah
akan terus mempertahankan HMI sebagai organisasi yang solid, kuat dan tetap
bertahan dikuatnya arus politik sepeti sekarang ini atau HMI hanya akan menjadi
sebuah dongeng masa lalu.
Realita inilah yang sekarang kita alami, kita mengalami fase transisi yang
sangat kuat, kita terperangkap ke dalam sejarah manis dari itu semua. HMI
adalah sebuah pergerakan yang berbasis Islam dan sudah sayogyanya lah kita
harus melepaskan persaingan-persaingan poitikyang justru semakin melemahkan pergerakan kita, kita hampir mendekati
arus gelombang perpecahan, kita terjerumus pada lembah suram di antara tebaran
bunga, tempat yang seharusnya nyaman, indah dan bersih dari arus persaingan
kini berupah menjadi sebuah jurang perpecahan, harmonisasi dari tiap anggota
maupun kader itulah yang harus kita jaga demi terwujudnya suatu persatuan yang
kuat di antara kita, kita adalah keluarga besar yang bernaung pada satu wadah
yang sama dan mempunyai visi dan misi yang sama, kita satu langkah dan satu
tujuan meskipun terkadang kita harus singgah pada lingkungan yang berbeda, tapi
selama harmonisasi masih terjalin dengan baik maka selama itu pula kita akan
tetap bertahan di tengah intervensi-intervensi politik yang menjadi sebuah
doktrin negative bagi pergerakan kita.
Dan bertepatan dengan milad HMI yang ke 64 mari kita jalin harmonisasi yang
baik di antara kita, kita jalin silaturrahim yang akan semakin meperkuat rasa
persaudaraan kita, kita adalah generasi masa depan yang akan bertanggung jawab
atas masa depan HMI, kita punya beban yang sama dan keinginan yang sama, mari
kita rapatkan barisan dan satukan tekad demi sebuah perubahan yang akan
membangun semangat baru HMI.
Dengan demikian apabila ini terwujud maka HMI akan selalu ada dan tidak
akan pernah menjadi cerita masa lalu yang hanya akan menadi hiasan dinding dari
perjalanan negeri ini, HMI akan selalu jaya dan selalu terdepan dalam segala
bidang baik itu internal maupun eksternal, HMI akan selalu barada pada barisan
pertama dari setiap pergerakan, HMI akan selalu menjadi pelopor untuk sebuah
perjuangan, semangat teman-teman mari kkita raih masa depan cerah dengan sebuah
pilihan.
Yakinkan dengan iman, Usahakan dengan ilmu, Sampaikan dengan amal. Pantang
menolak tugas, pantang tugas tak selesai, yakin usaha sampai. YAKUSA.
Dan kami dari HMI komisariat syari’ah mangucapkan selamat atas telah
dilantiknya pengurus HMI cabang samarinda periode 2010/2011, semoga Allah
meridhoi kanda dan yunda semua. Amin.