Minggu, 25 September 2011

BELAJAR DARI KISAH AVATAR


BELAJAR DARI KISAH AVATAR
By : Qamarullah, S.H.I

Avatar adalah seseorang yang telah lama menghilang dan sangat diharapkan kedatangannya oleh masyarakat dalam legenda cina,  mirip dengan kisah Mahdi yang dinantikan oleh manusia tapi tulisan ini tidak akan menyamakan atau membanding bandingkan keduanya sebab  Avatar hanyalah legenda yang belum jelas nashnya selain sebuah cerita disalah satu stasiun TV swasta, namun ada beberapa pelajaran menarik yang dapat di urai dalam perjalanan cerita Avatar tersebut.

Pertama, Avatar yang bernama Aang sebagai sosok yang dirindukan ternyata belum menguasai empat elemen ( air, api, udara, dan bumi ) sebagai senjata untuk menyelamatkan dunia, lalu apa yang di lakukannya? sang Avatar mengembara untuk mencari seorang Guru yang mampu mengajarinya “pengendalian” keempat elemen tersebut, tidak perduli utara selatan barat maupun timur jika ada berita sang pengendali tinggal disana maka ia pun terbang dengan bison kesayangannya untuk belajar, legenda ini mirip dengan Imam Ahmad bin Hambal yang selalu mencari Perawi Hadis sampai ke orang pertama untuk meyakinkan tentang keshohihan hadis yang beliau dengar. Apa hikmah dibalik ini semua ternyata sang legenda yang diramalkan mampu menyelamatkan dunia saja masih mau belajar dan tanpa berputus asa mencari guru bagaimana mungkin kita yang bukan apa-apa tidak mau belajar bahkan kesulitan mencari seorang gurupun tidak ditemui untuk saat ini, guru formal misalnya sudah ada didalam kelas tapi kita malah sibuk mencari alasan untuk tidak masuk kelas atau kampus bahkan dengan congkaknya mengusir sang guru dengan alas an kurang berbobot atau tidak berkualitas padahal sang guru telah mengalami perjalanan pencarian ilmu lebih banyak daripada dia tapi keegoisan diri serta kesombongan hati telah menutup realitas bahwa dia pun tidak bias apa- apa selain sibuk mengkritik.

Kedua, Keempat Elemen yang ingin di pelajari oleh Avatar ternyata merupakan Refleksi Sifat Manusia, jika Avatar ingin menguasainya dan berharap mampu menjadi pengendali maka kita pun harus demikian, saatnya kita menjadi pengendali Air yang melambangkan sifat ketenangan, kejujuran, saat tidak mampu dikendalikan maka Air bisa menghancurkan dan menenggelamkan apa saja yang dilaluinya, pengendali Api melambangkan pengendalian terhadap amarah sehingga kita dituntut untuk sabar, tegas dan berwibawa namun seperti Air, Apipun jika tidak di kendalikan dapat menghadirkan bencana kebakaran serta kerusakan lainnya. Pengendalian Angin menghadirkan kesejukkan dan ketawadhuan namun ketika tidak di kendalikan pun dapat berimplikasi negative, begitu juga dengan Bumi yang melambangkan kemakmuran jika tidak dikelola dengan baik pun akan menghasilkan Kemarahan Alam.

Iktibar
Belajarlah dengan semangat avatar, balajar dari kegagalan dan kesuksesan orang lain, Kenali potensi dan saatnya menjadi pengendali keempat elemen.
Multum in Farvo.

Gerakan Dan Perjuangan HMI


Gerakan Dan Perjuangan HMI (Harapan Masyarakat Indonesia)
Oleh : M. Harun Rasid (Kabid PTKP 2010-2011)

Masih patut di acungi jempol perjuangan HMI hingga saat ini dalam mengisi kemerdaan terukir dalam sejarah HMI, bahkan sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan Indonesia. HMI memiliki andil yang sangat besar dan patut diberikan penghargaan. Layaknya pejuang merah putih, sekaligus sebagai generasi umat dan bangsa tanah air, HMI tidak lelahnya terus dan terus membantu pemerintah dalam penyediaan SDM yang siap pakai. Dan dalam sambutan Bang Imam Ari Wibowo, S.E dari PMD KAHMI Samarinda dalam agenda pelantikan Pengurus HMI cabang Samarinda pada kamis malam (malam jum’at) 17/2 di Auditoriom MAN 2, beliau mengatakan “ Kader HMI adalah Generasi Umat dan Bangsa Siap Pakai, Dan Gratis. HMI mantap.“ Gratis disini penulis mencoba menafsirkan bahwa kader HMI dalam pendidikan perkaderan didalam HMI murni sebuah usaha untuk menjadi cendikiawan Muslim dan Cendikiawan Bangsa yang siap mengabdi kepada Negara sesuai dengan hak dan kewajibannya, bukan sebagai organisasi yang dimanfaatkan untuk memperkaya diri dalam hal materiil.
Indonesia juga dalam era demokrasi sekarang ini banyak dirunut masalah yang begitu peliknya hingga berbagai ancaman ormas-ormas yang tidak setuju dengan pemerintahan terkait dalam menjalankan visi dan misi, bahkan ada sekali-kali ancaman tersebut berlontar Presiden mengundurkan diri dari jabatan, karena tidak mampu memberikan hak-hak yang diinginkan masyarakatnya. Disinilah sebagai warga Negara, kader HMI patut berintrospeksi diri tidak hanya ikut mengecam pemerintah, tapi HMI harus sadar akan tugasnya (pasal 4 AD HMI) dan berupaya lagi dalam internal HMI sendiri harusnya tidak adanya permusuhan dan perpecahan, karena Anggota HMI adalah Mahasiswa Islam yang duduk di perguruan tinggi islam dan negeri yang dibina didalam perkaderan HMI maupun perguruan tingginya, pastinya tidak mengandalkan otot dalam berdebat melainkan otak dan tidak mengedepankan ego dan kepentingan-kepentingan sendiri dalam bertindak, namun lebih dalam usaha mencapai tujuan bersama. Dalam paragraph kedua ini ada pertanyaan dari penulis yang mendasar, Kapan kader HMI duduk dalam kursi presiden RI? Apalagi untuk tujuan tersebut HMI malah bentrok dalam internal sendiri, bukan hal yang tidak mungkin bahkan suatu saat yang akan datang HMI bakal hancur dan musnah. Inikan yang tidak kita inginkan. Semua anggota HMI bahkan Alumni atau pengagum organisasi HMI sepakat tidak ingin adanya pecah belah dalam internal HMI.
Ideologi lagi sering menjadi permasalahan dalam internal HMI. Dalam buku Menuju Masyarakat Madani  karangan Prof. DR. Azyumardi Azra, M.A “ HMI tidak jelas ieologinya islam dan tidak mengambil salah satu madzhab dalam fikih islam”. Mungkin ini kritik yang cukup pedas dilontarkan oleh orang yang kenal HMI dan bahkan kenal asas HMI islam, namun perkataan dalam bukunya Islam yang kurang mumpuni dari segi pemahaman karena tidak menjurus pada salah satu madzhab fikih. Namun, HMI jangan beradu argument lagi untuk masalah tersebut. HMI harus tetap berpegangan tangan. Yang menjadi sorotan kita sekarang adalah Islam HMI apakah sudah sesuai dengan Al-Qur’an Dan Al-Hadist?. Jika sudah sesuai maka insya allah Semua Anggota HMI akan selamat didunia dan akhirat dan pejuangan HMI memperoleh Ridho Allah SWT. Berdasarkan Lagu Hymne HMI pada bait ke-1 “Bersyukur Dan Ikhlas, Himpuan Mahasiswa Islam” dan Lanjutan pada Bait ke-9 “ Turut Qur’an Dan Hadist, Jalan Keselamatan”. Bukan semata-mata sebagai Hymne, namun lebih dari itu sebagai landasan perjuangan dan Agama.
Setiap kader mestilah mempunyai usaha dalam membangun diri pribadinya, inilah yang tercermin oleh seorang kader HMI yang bisa rela dalam menjalankan tugasnya. Dalam hal ini juga masih disorot beberapa pertanyaan dan experiment, Baru saja kemarin ada sebuah kalimat yang menyebutkan dalam rangka MILAD HMI ke-64 di SMD “Sepirit Islam, HMI mengabdi dengan kesederhanaan”. Patut menjadi contoh bagi kita beberapa orang yang kagum dengan sebuah kalimat tersebut, bahkan menjadi patokan dalam kinerja pribadinya dalam perkaderan HMI. Inilah siapa sangka bahwa islam sendiri mengajarkan kesederhanaan dalam hidup ini, kenapa HMI juga tidak demikian antusiasnya. Nabi Muhammad S.A.W pada sebuah riwayat, beliau setiap pagi selalu membawa makanan yang dibuatkan oleh istrinya untuk diberikan kepada seorang yang buta. Bahkan pada kesempatan tersebut Beliau Rasulullah Muhammad S.A.W rela menyuapi orang buta tersebut, dan lebih anehnya lagi beliau tau padahal orang yang buta itu sedang mencerca rasulullah dengan mengatakan “jangan percaya kepada Muhammad, Muhammad seorang penipu”. Tapi, orang buta tersebut tidak mengetahui yang menyuapi dan memberi makan beliau adalah Nabi Muhammad S.A.W. Sungguh dalam diri rasulullah terdapat suri tauladan yang baik. Hingga pada akhirnya orang buta tersebut tidak lagi merasa diberi makan lagi oleh orang yang menyuapinya setiap pagi, karena nabi Muhammad wafat. Ketika si buta tadi mendengar bahwa yang selalu menyuapinya tadi adalah nabi Muhammad, beliau langsung beristighfar dan segera masuk islam. Siapa yang bisa meniru sifat rasulullah ini, selalu berbuat baik kepada orang yang walaupun orang tersebut benci dengan kita, dan kemenangan besar datang kepada beliau. Selain itu, beliau dalam daftar pemimpin dunia dalam sejarah, menempati peringkat ke-1. Seluruh dunia sudah mengakuinya bahkan tidak hanya sebagai symbol, dalam firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Ghiroh baru bukan berarti bahwa meninggalkan sebuah wahyu yang diturunkan lama sebelum kita ada atau hadir dibumi ini. Wahyu adalah Kalam Allah, dan perkataan Allah. Siapapun tidak ada yang sanggup menandingi Al-qur’an baik dari segi isi ataupun bacaannya. Oleh karena itu, Al-qur’an bagi para ulama adalah Pedoman Agama yang lebih muda dari Al-kitab yang diturunkan sebelumnya dan selalu menjadi semangat baru dari segi isinya dan bacaannya. Sebab itulah, sebagai pedoman pokok dalam ghiroh baru dalam perjuangan HMI yang pertama adalah berpedoman pada Al-qur’an. Seorang Kader HMI juga patut mengkoreksi diri, apakah sudah selama ini perbuatan dan tindakannya sudah sesuai dengan Al-qur’an Atau kalam Allah. Akan tetapi tidak lengkap jika kita hanya bicarakan Al-Qur’an. Sebagai Sebuah konstitusi yang lengkap untuk pedoman ajaran islam, Al-Hadist juga tidak bisa kita tinggalkan. Maka Al-qur’an dan Al-hadist adalah sebuah kesimpulan patokan kita dalam melandasi seorang kader HMI untuk berbuat, bertindak, dan mengabdi.
Selanjutnya, Semakin banyak kader HMI berkaca diri, semakin cepat tujuan HMI pasal 4 AD HMI itu terwujud. Mengapa penulis katakan demikian, karena tujuan HMI tidak jauh-jauh dari ajaran-ajaran islam serta memperoleh ridho Allah S.A.W. Siapa yang tidak tahu bahwa ajaran islam itu mengharuskan umat manusia untuk saling hidup berdamai dan madani, dan siapa yang tidak tahu islam mengajarkan kepada manusia untuk menuntuk ilmu akademis (Insan Akademis), selanjutnya mengamalkan ilmu tersebut dengan cara membuat inovasi atau memunculkan ide-ide kreatif (Insan Pencipta), serta menyampaikan ilmu tersebut kepada sesama dan mengabdi kepada Bangsa Negara (Insan Pengabdi). Jika hal tersebut terpenuhi maka, akan mencapai umat manusia yang selalu bernafaskan islam dalam kepribadian hidupnya (Insan yang Bernafaskan Islam), dan bukan hal yang tidak mungkin menjadi manusia yang selalu bertanggung jawab baik kepada sesama, ataupun kepada bangsa dan Negara tanpa ada paksasan (Insan yang Bertanggungjawab). Maka insya Allah kader HMI memperoleh Ridho Allah Subhanahu Wata’ala. Amin ya rabbal alamin.
Reference :
ü  Pedoman Basic Training
ü  AD / ART HMI
ü  HMI Candradimuka Mahasiswa, Pengarang : Solichin
ü  Menuju Masyarakat Madani, Pengarang : Prof. DR. Azyumardi Azra, M.A

Ghiroh Baru Menuju Masa Depan Cita

“Ghiroh Baru Menuju Masa Depan Cita”
Oleh : Abdussalam

Mahasiswa adalah salah satu kekuatan yang mempelopori perubahan di Negeri ini. Mahasiswa dan gerakan-gerakan kemahasiswaan telah memberikan peran yang signifikan dengan memberikan “api-api perjuangan” untuk menyikapi permasalahan-permasalahan dengan kritis demi menegakkan keadilan dan kebenaran. Dan inilah bentuk dedikasi seorang mahasiswa kepada Negerinya. Mahasiswa dan gerakan-gerakan kemahasiswaan telah berhasil menunjukkan eksistensinya di tengah pergelutan politik yang mengancam nama baik Negeri ini, problematika-problematika yang mulai merebak di tengah khalayak seolah-olah menjadi “motivator” sebuah pergerakan, dan bentuk keanarkisan dalam sebuah pergerakan adalah bentuk kekecewaan terhadap problematika tersebut.
Hari ini kita telah mulai kehilangan Ruh dalam sebuah perjuangan, kita sudah mulai “melupakan” sejarah yang memicu lahirnya pergerakan ini. Semangat perjuangan mengalami kemunduran dengan adanya intervensi politik yang masuk dengan mudah ke dalam ranah implementasi perjuangan tersebut, hal ini mengindikasikan kalau kita lemah, kita tidak sekuat dulu dan kita tidak sesolid dulu. Akankah semangat perjuangan, kekuatan dan kesolidan kita hanya akan menjadi catatan sejarah tanpa adanya regenerasi lebih lanjut ?
Apakah ini akhir dari metamorfosa HMI ?
Sejarah lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan berawal dari sebuah kebetulan, tapi berawal dari sebuah perencanaan, kerisaun dan harapan. Dan kita sebagai generasi penerus adalah bagian dari sebuah harapan dari para pendiri/pelopor lahirnya HMI.
HMI bukanlah organisasi baru yang hanya akan menjadi pengekor dari organisasi-organisasi lain, HMI bukanlah “pembantu” yang harus selalu menurut apa kata tuannya. Tetapi, Hmi adalah salah satu “nenek moyang” dari organisasi-organisasi lain, HMI adalah salah satu pelopor dari organisasi-organisasi lain, HMI punya andil besar dari revolusi yang terjadi di Negeri ini, HMI punya peran yang signifikan dalam menumbangkan rezim orde lama. Tetapi, akan timbul pertanyaan dari ini semua “apakah ini hanya akan menjadi catatan sejarah ?”, kita punya pilihan sebagai generasi penerus “apakah akan terus menggoreskan sejarah dari setiap perjuangan kita atau sejarah perjuangan HMI terhenti sampai di sini ?”.
HMI haus akan kader-kader berkualitas, HMI rindu pada suasana intelektualitas, HMI rindu untuk membina insan akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT. Ini semua adalah keluh kesah yang seharusnya bisa kita dengar dan kita perbiki.
HMI punya masa keemasan, HMI punya sejarah yang wajar untuk dibanggakan. Tapi, sampai kapan kita akan bernostalgia dengan semua sejarah itu, sampai kapan kita akan beromantika dengan sejarah yang pernah ditoreh oleh para pendahulu kita ?. Jika para pendahulu mempunyai rentetan sejarah yang memuaskan, lalu ada apa dengan kader-kader HMI yang sekarang ?
Rentetan pertanyaan tersebut adalah bukti dari merosotnya pergerakan kita, kita terlalu terbuai pada ranah politk sesaat, kita terlalu terlena pada persaingan internal dalam pergerakan kita, apakah harus ada perombakan besar-besaran pada paradigma kita, ? kita harus selalu bangga dengan komunitas “nama besar” pergerakan HMI. Tapi, jangan sampai kebanggaan kita pada sebuah komunitas hanya akan meniadakan kualitas pada diri kita sebagai salah satu calon kader HMI yang berintelektualitas Muslim. Seyogyanya, haruslah ada keselarasan dari keduanya, kita bangga dengan sebuah komunitas, tapi kita juga bias bangga dengan kualitas kita. Dan ini adalah pilihan.
Mengenai pilihan, saya teringat sebuah cerita seorang pengemis yang ingin mengubah nasibnya, pada suatu hari pengemis ini datang kesebuah pasar “expo”, di pasar tersebut dia bertemu dengan seorang peramal, lalu peramal itu pun meramal garis tangannya, dan peramal itu pun mengatakan kepada pengemis bahwa “garis tangan anda sama persis dengan garis tangan Napoleon Bonavarte”, dengan penuh keraguan akhirnya pengemis tadi pun pergi ke pasar selanjutnya, dan bertemu kembali dengan seorang peramal, peramal itu pun mulai meramal garis tangan pengemis tadi, peramal pun berkata hal yang sama seperti peramal yang pertama yaitu “garis tangan anda sama persis seperti garis tangan Napoleon Bonaparte”, namun seorang pengemis tadi masih meragukan apa yang dikatakan oleh dua orang peramal tadi, akhirnya dia pun berkunjung ke tempat peramal yang ketiga namun jawaban yang sama lagi yang dia dapatkan, dengan sebuah keyakinan dia pun mengubah penampilannya yang semula urak-urakan menjadi rapi dan bersih, dan sejarah mencatat seorang pengemis tadi pernah menjadi orang terkaya di Perancis.
Dari cerita di atas kita semua bisa mengembil sebuah pelajaran bahwa hidup ini pilihan, kita semua mempunyai kesempatan untuk itu semua, kita yang menentukan akhir dari perjalanan hidup kita. Apa yang akan kita pilih dan kita raih semuanya menjadi sebuah pilihan.
Begitu juga dengan HMI, kita sebagai kader-kader HMI punya pilihan, apakah akan terus mempertahankan HMI sebagai organisasi yang solid, kuat dan tetap bertahan dikuatnya arus politik sepeti sekarang ini atau HMI hanya akan menjadi sebuah dongeng masa lalu.
Realita inilah yang sekarang kita alami, kita mengalami fase transisi yang sangat kuat, kita terperangkap ke dalam sejarah manis dari itu semua. HMI adalah sebuah pergerakan yang berbasis Islam dan sudah sayogyanya lah kita harus melepaskan persaingan-persaingan poitik  yang justru semakin melemahkan pergerakan kita, kita hampir mendekati arus gelombang perpecahan, kita terjerumus pada lembah suram di antara tebaran bunga, tempat yang seharusnya nyaman, indah dan bersih dari arus persaingan kini berupah menjadi sebuah jurang perpecahan, harmonisasi dari tiap anggota maupun kader itulah yang harus kita jaga demi terwujudnya suatu persatuan yang kuat di antara kita, kita adalah keluarga besar yang bernaung pada satu wadah yang sama dan mempunyai visi dan misi yang sama, kita satu langkah dan satu tujuan meskipun terkadang kita harus singgah pada lingkungan yang berbeda, tapi selama harmonisasi masih terjalin dengan baik maka selama itu pula kita akan tetap bertahan di tengah intervensi-intervensi politik yang menjadi sebuah doktrin negative bagi pergerakan kita.
Dan bertepatan dengan milad HMI yang ke 64 mari kita jalin harmonisasi yang baik di antara kita, kita jalin silaturrahim yang akan semakin meperkuat rasa persaudaraan kita, kita adalah generasi masa depan yang akan bertanggung jawab atas masa depan HMI, kita punya beban yang sama dan keinginan yang sama, mari kita rapatkan barisan dan satukan tekad demi sebuah perubahan yang akan membangun semangat baru HMI.
Dengan demikian apabila ini terwujud maka HMI akan selalu ada dan tidak akan pernah menjadi cerita masa lalu yang hanya akan menadi hiasan dinding dari perjalanan negeri ini, HMI akan selalu jaya dan selalu terdepan dalam segala bidang baik itu internal maupun eksternal, HMI akan selalu barada pada barisan pertama dari setiap pergerakan, HMI akan selalu menjadi pelopor untuk sebuah perjuangan, semangat teman-teman mari kkita raih masa depan cerah dengan sebuah pilihan.
Yakinkan dengan iman, Usahakan dengan ilmu, Sampaikan dengan amal. Pantang menolak tugas, pantang tugas tak selesai, yakin usaha sampai. YAKUSA.
Dan kami dari HMI komisariat syari’ah mangucapkan selamat atas telah dilantiknya pengurus HMI cabang samarinda periode 2010/2011, semoga Allah meridhoi kanda dan yunda semua. Amin.

Sabtu, 19 Februari 2011

PANTUN HMI


Ada bebek ditabok polwan
Habis nabok polwannya lari....
Aduh HMI memang menawan
Membuat semangat berkobar lagi....

Jalan-jalan kepasar pagi
Pulannya naik taksi....
Aku senang dengan HMI
Membuat gairah berorganisasi....

Ada duka di balik senyumanku
Yang membuat perih hati ini...
Oya doakan aku
Supaya langgeng dengan HMI...
Amin....
By : Abdus Salam

Cinta Atas Mu


Cinta Atas Mu

Segerumpun karunia Allah telah tercurah kepada hamba
Sebersit cahaya tersirat hingga yang hidup mulai bangkit
Meratapi jasad wangyang merona dosa
Begitu aku ingin disisi Cinta Mu Ya Allah
Hatiku satu nafas
Tiada siapapun akan mengganggu Atas Mu
Setan, Iblis, dan Binatang sekalipun
Tak patutnya melempar api kesesatan menuju jalan Mu
Hamba Iman akan jalan suci ini
Menapaki perjalanan lika-liku kehidupan
Secara ku lempar murka tatapan nafsu
Tujuan Akhir hanya patut ku mohon Ridho Mu

By ; Rasid Al-Star